Author : UnknownTidak ada komentar
SEPUTARKUDUS.COM, BACIN - Di tepi Jalan Sosrokartono, Desa Bacin, Kecamatan Bae, Kudus, terlihat seorang wanita renta sedang berjalan sempoyongan. Dia menggendong karung berwarna putih dan kantong plastik berawana putih ditangan kirinya. Sesekali langkahnya terhenti saat melihat botol plastik yang ada di tepi jalan. Wanita itu yakni Mbah Sukinah (60). Meski raganya tak lagi kuat, dia harus tetap bekerja menjadi pemulung untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
![]() |
Mbah Sukinah melangkahkan kaki menyusuri jalan untuk mengais sampah. Foto: Ahmad Rosyidi |
Langkahnya terhenti di tepi jalan, untuk sedikit menghela nafas dan istirahat. Saat itulah, Mbah Sukinah sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang pekerjaan yang dia jalani. Dia mengatakan dirinya menjadi pemulung karena tidak ingin merepotkan anak-anaknya.
"Mata sebelah kanan saya sakit dan tidak bisa melihat sejak 10 tahun yang lalu. Tapi saya tidak mau berdiam diri dan bergantung kepada anak-anak yang bekerja menjadi buruh," ujar Mbah Sukinah.
Dia mengaku tidak tau penyakit yang membuat mata kanannya hingga tidak bisa digunakan untuk melihat lagi. Awalnya terasa panas dan sakit pada mata kanannya. Setelah berobat dan menjalani oprasi tiga kali, tidak ada pengaruh hingga akhirnya dia mengalami kebutaan hingga saat ini.
“Mata saya sudah tidak bisa melihat sejak 10 tahun yang lalu. Kalau menjadi pemulung saya sudah tiga tahun, karena saya tidak ingin merepotkan anak-anak saya yang sudah berkluarga. Saya tidak tau mau bekerja apa lagi, ini yang bisa saya lakukan jadi saya syukuri saja,” ungkap wanita dua anak itu.
Mbah Sukinah mulai berangkat memulung pukul 7.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB. Biasanya dia berjalan di sekitar Desa Panjang, Desa Bacin, dan Desa Kaliputu. Karena dirinya berjalan kaki dan merasa sudah tua, dia tidak mencari sampah ketempat yang jauh dari rumahnya di Desa Bacin RT 2, RW 1, Kecamatan Bae, Kudus.
Dari hasil memulung, dia mengaku mendapat uang sekitar kurang lebih Rp 50 ribu per tiga hari. Setelah mencari sampah mbah Sukinah tidak langsung menjualnya, tetapi dia bawa pulang dan dikumpulkan di rumah. Dan setiap tiga hari sekali ada pembeli yang datang kerumahnya.
“Biasanya saya kumpulkan dulu di rumah. Setiap tiga hari sekali biasanya ada yang datang mengambil ke rumah. Dari hasil saya mengumpulkan sampah tiga hari biasanya mendapat uang Rp 50 ribu,” jelas mbah Sukinah sambil mengusap mata kanannya.
Artikel Terkait
- Penjual Samurai Asal Bandung Ini Berjalan Kaki Pindah-Pindah Kota, Sehari Bisa Kantongi Uang Rp 1 Juta
- Marvin Rela Tak Lanjut Sekolah untuk Magang di Kudus Demi Cita-Cita Dirikan Usaha Pembuatan Stempel di Blora
- Tidak Ingin Terus Jadi Kuli Serabutan, Suntoro Beranikan Diri Berjualan Helm di Tepi Jalan dengan Modal Pinjaman
- Orang Singocandi Ini Tak Akan Melepas Yamaha 75 Butut Miliknya Meski Ditawar dengan Harga Selangit
- Pria Tak Lulus SD Ini Bisa Bangun Rumah Bertingkat dan Beli Mobil Hasil Berjualan Bakso Bakar
- 35 Tahun Berjalan Kaki Menjual Kerupuk, Dalhar Tetap Bersyukur Meski Tak Jarang Dipalak Orang
- Berjualan Ayam Goreng Crispy di Perempatan Sucen, Wahyu Bisa Meraup Omzet Rp 2 Juta Sehari
- Sukses Berjualan Ayam Goreng Crispy, Wahyu Tak Pernah Lupa Jasa Baik Bu Nyai yang Membawanya Hijrah ke Kudus
- Meski Mata Kanannya Tak Melihat, Mbah Sukinah Tetap Bekerja Karena Tak Mau Merepotkan Anak-Anaknya
- Saking Larisnya, Toko ARS sering Kehabisan Stok Klakson Telolet, Banyak Pembeli Pulang dengan Tangan Hampa
Posted On : Jumat, 16 Desember 2016Time : 00.09