Author : UnknownTidak ada komentar
SEPUTARKUDUS.COM, BAKALANKRAPYAK - Sebuah payung berwarna-warni terlihat di atas grobak berisi buah-buahan di tepi Jalan KHR Asnawi, Desa Bakalankrapyak, Kaliwungu, Kudus. Terlihat seorang lelaki tua mengupas buah yang kemudian dimasukan kedalam mika. Pria itu adalah Sujak (60), yang baru dua bulan ini berjualan rujak menggantikan putranya yang saat ini sedang bekerja menjadi kuli bangunan.
![]() |
Sujak sedang mengupas buah untuk dibuat rujak di Jalan KHR Asnawi, Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi |
Saat menunggu pembeli di tepi jalan itu, Sujak sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com, tentang pekerjaan yang baru saja dijalaninya itu. Dia mengatakan berjualan rujak karena sedang tidak memiliki pekerjaan. Dia sebenarnya biasa menjual rambutan, namun saat ini belum memasuki musim panen.
“Pekerjaan menjual rujak ini sementara, sambil menunggu musim rambutan. Ketebulan anak saya punya usaha penjualan rujak, tapi saat ini dia kerja bangunan,” ungkap pria enam anak itu.
Sujak mengungkapkan lebih senang berjualan rambutan, karena untungnya lebih banyak. Tetapi pekerjaan itu hanya bisa dia lakukan saat musim rambutan saja. Saat musimnya dia membeli rambutan di Desa Lebuawu, Pecangaan, Jepara, kemudian dia jual lagi ke Semarang.
Sambil memasukkan bumbu rujak ke dalam plastik, Sujak merinci tujuh jenis buah-buahan rujaknya yang dia beli di Pasar Mayong. Ada nanas, timun, papaya, dondong, melon, bengkoang, mangga, dan pir. Dia biasanya menjual rujak jambu air, namun saat ini susah dicari.
Dia mulai berjualan di samping pintu masuk pabrik Polytron pukul 10.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB. Tiap bungkus rujaknya dia jual seharga Rp 6 ribu. Tetapi saat ada pembeli yang menginginkan buah tertentu dia jual seharga Rp 7 ribu per bungkus. Sujak bisa menjual rujaknya per hari sekitar 30 hingga 35 bungkus, dan mendapat keuntungan sekitar Rp 50 ribu.
“Gerobak saya titipkan dan saya pulang naik motor. Per hari paling laku sekitar 30 higga 35 bungkus, kemudian sisanya saya bawa pulang untuk saya jual lagi besok,” jelas warga Mayong, Jepara itu.
Artikel Terkait
- Pria Tak Lulus SD Ini Bisa Bangun Rumah Bertingkat dan Beli Mobil Hasil Berjualan Bakso Bakar
- 35 Tahun Berjalan Kaki Menjual Kerupuk, Dalhar Tetap Bersyukur Meski Tak Jarang Dipalak Orang
- Aris Buka Jasa Perbaikan Lampu Hemat Energi Siang Hari di Pasar Bitingan Karena Sedikit Saingan
- Saking Larisnya, Toko ARS sering Kehabisan Stok Klakson Telolet, Banyak Pembeli Pulang dengan Tangan Hampa
- Sambil Menuggu Musim Rambutan, Lelaki Tua Asal Mayong Ini Berjualan Rujak di Kudus Meski Sepi Pembeli
- Berhenti Kuliah Karena Tiada Biaya, Yanto Berjualan Buah yang Kini Omzetnya Mecapai Rp 5 Juta Sehari
- Orang Singocandi Ini Tak Akan Melepas Yamaha 75 Butut Miliknya Meski Ditawar dengan Harga Selangit
- Berjualan Ayam Goreng Crispy di Perempatan Sucen, Wahyu Bisa Meraup Omzet Rp 2 Juta Sehari
- Sukses Berjualan Ayam Goreng Crispy, Wahyu Tak Pernah Lupa Jasa Baik Bu Nyai yang Membawanya Hijrah ke Kudus
- Toko Sandal Lucu di Kudus Tiga Tahun Dirintis Kini Memiliki 80 Reseller dengan Omzet Rp 20 Juta Sebulan
Posted On : Senin, 19 Desember 2016Time : 00.26